Entri Populer

Entri Populer

Kamis, 12 November 2009

EKMA4215 Manajemen Operasi


Deskripsi Matakuliah :
EKMA4215 Manajemen Operasi
Agus Achyari


Harga Buku : Rp. 67.000,- (disertai multimedia)
3 SKS - Modul 1-9 / Edisi 1
ISBN : 9796028182
DDC22 : 658.4034
Copyright (BMP) © Jakarta: Universitas Terbuka, 2001

Mata kuliah ini memberikan pengetahuan mengenai konsep-konsep dalam manajemen operasi. Pembahasan meliputi konsep manajemen produksi, perencanaan produk, perencanaan lokasi pabrik, perencanaan lay-out, pengendalian karyawan, pengendalian biaya operasional dan pengendalian kualitas.

pembelian online:
http://ebook.ut.ac.id/product_info.php?cPath=21_33&products_id=149

Tinjauan Mata Kuliah
Mata kuliah Akuntansi Biaya (EKMA4315) ini membahas proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian informasi biaya, untuk menentukan harga pokok produksi baik dengan metode harga pokok pesanan maupun harga pokok proses dengan sistem biaya penuh (full costing), sistem biaya standar maupun sistem biaya variabel (variable costing). Informasi biaya di sini meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Untuk metode harga pokok proses dibahas dengan berbagai variasi seperti adanya persediaan awal proses, produk hilang awal proses dan produk hilang akhir proses dan hal-hal yang terjadi selama proses produksi seperti produk rusak, produk cacat dan produk sampingan dengan berbagai perlakuan akuntansinya. Dengan usaha yang serius dari Anda untuk mempelajari BMP ini akan membantu dalam memahami sehingga dapat menghitung dan membuat laporan harga pokok produksi secara benar.
BMP ini meliputi 9 modul berikut ini.
Modul 1 mengenai Akuntansi Biaya dan Pengertian Biaya. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menjelaskan pengertian akuntansi biaya, objek yang menjadi sasaran akuntansi biaya dan berbagai pengertian dasar mengenai biaya.
Modul 2 mengenai Metode Harga Pokok Pesanan. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menjelaskan dan menghitung metode pengumpulan biaya dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan.
Modul 3 mengenai Biaya Overhead Pabrik. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menghitung tarif biaya overhead pabrik dalam perusahaan yang mengolah produknya melalui satu departemen produksi.
Modul 4 mengenai Departementalisasi Biaya Overhead Pabrik. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menghitung tarif biaya overhead pabrik dalam perusahaan yang mengolah produknya melalui lebih dari satu departemen produksi.
Modul 5 mengenai Biaya Bahan Baku dan Biaya Tenaga Kerja. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menjelaskan akuntansi biaya bahan baku dan tenaga kerja.
Modul 6 mengenai Metode Harga Pokok Proses Pengantar. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menjelaskan metode pengumpulan biaya produksi dan menghitung biaya produksi serta menyusun laporan biaya produksi dalam perusahaan yang memproduksi produknya secara massal.
Modul 7 mengenai Metode Harga Pokok Proses Lanjutan. Tujuan pokok bahasan ini agar Anda mampu menjelaskan metode pengumpulan biaya produksi dan menghitung biaya produksi serta menyusun laporan biaya produksi dalam perusahaan yang berproduksi secara massal dengan memperhitungkan adanya produk dalam proses pada awal priode dan memperhitungkan tambahan bahan baku dalam departemen setelah departemen produksi pertama.
Modul 8 mengenai Penentuan Harga Pokok Produk Bersama dan Produk Sampingan. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menjelaskan dan menghitung biaya bersama, produk bersama dan produk sampingan serta perlakuan akuntansinya.
Modul 9 mengenai Sistem Biaya Standar dan Penentuan Harga Pokok Variabel. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menghitung biaya standar, menjelaskan biaya standar sebagai alat pengendalian biaya dan penilaian prestasi manajer juga dapat membedakan metode penentuan harga pokok penuh dan harga pokok variabel, menyajikan informasi yang disusun berdasarkan metode harga pokok variabel, dan mengetahui keunggulan dan kelemahan harga pokok variabel.
Setelah mengikuti mata kuliah ini, Anda diharapkan dapat menjelaskan pengertian akuntansi biaya dan kedudukan akuntansi biaya dalam akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen, menghitung dan membuat laporan harga pokok produksi dengan metode harga pokok pesanan maupun metode harga pokok proses, sistem biaya standar, sistem biaya penuh maupun sistem biaya variabel.
Untuk lebih memudahkan dalam memahami Buku Materi Pokok mata kuliah ini, berikut ini disampaikan desain intruksional yang menggambarkan tujuan dari intruksional tiap topik bahasan dan kompetensi-kompetensi pendukung yang harus Anda kuasai untuk mencapai kompetensi utama mata kuliah ini.
Rangkuman Mata Kuliah


MODUL 1
MANAJEMEN PRODUKSI, SISTEM PRODUKSI DAN PROSES OPERASI PRODUKSI
Kegiatan Belajar 1
Manajemen Produksi/Operasi dan Lingkupnya
Manajemen produksi/operasi adalah manajemen yang diterapkan dalam bidang operasi/produksi. Ada tiga hal utama yang terkait, yaitu perencanaan sistem produksi/operasi, pengendalian produksi/operasi, dan sistem informasi produksi
Kegiatan Belajar 2
Sistem Produksi Perusahaan
Sistem produksi adalah gabungan komponen-komponen yang saling menunjang untuk melakukan transformasi sejumlah masukan atau input menjadi keluaran atau output dengan tujuan untuk mendapatkan tambahan manfaat. Ada tiga komponen utama dari sistem produksi, yaitu input atau masukan, proses produksi, dan output atau keluaran.
Sistem produksi yang dipersiapkan oleh perusahaan bukannya mempunyai umur yang tak terbatas. Sampai pada saat tertentu, sistem produksi tidak dapat digunakan lagi. Penyebabnya bisa beragam. Ada penyebab teknis, ada pula pertimbangan ekonomis.
Kegiatan Belajar 3
Proses Produksi dan Jenisnya
Proses produksi dalam perusahaan dapat dibagi melalui empat macam sudut pandang, yaitu menurut ujud proses, menurut aliran proses, menurut tujuan proses, dan menurut penyelesaian proses. Masing-masing sudut pandang ini mempunyai tujuan yang berbeda dan karenanya menghasilkan jenis proses produksi yang berbeda pula.
Kegiatan Belajar 4
Model untuk Pengambilan Keputusan
Model, secara umum dapat dibagi menjadi model fisis, skematis, dan matematis. Untuk mempermudah dan memperjelas proses pengambilan keputusan diperlukan model yang cocok dengan situasi dan kondisi yang dihadapi perusahaan. Model yang tidak cocok dengan situasi dan kondisi perusahaan justru akan menuntun keputusan yang dibuat menjadi bias.

MODUL 2
PERENCANAAN PRODUK DAN STANDAR PRODUKSI
Kegiatan Belajar 1
Perencanaan Teknis Produk Perusahaan
Perencanaan teknis menyangkut berbagai macam perencanaan penting, yaitu disain fungsi produk, disain bentuk, ukuran, dan warna produk, disain pembuatan produk, teknologi dan luas perusahaan yang direncanakan, dan perencanaan pendahuluan.
Kegiatan Belajar 2
Penelitian dan Pengembangan Produk
Dengan melakukan penelitian dan pengembangan produk, perusahaan dapat membuat produk baru yang diperlukan pelanggan. Untuk menentukan apakah produk baru akan diproduksi dan dipasarkan, perlu mempertimbangkan berbagai faktor lain seperti; kesesuaian, material, karyawan, teknologi dan peralatan, dan aspek finansial.
Kegiatan Belajar 3
Pola Produksi dalam Perusahaan
Pola produksi adalah distribusi jumlah produksi tahunan ke dalam periode yang lebih kecil. Terdapat tiga macam pola produksi yaitu pola produksi bergelombang, pola produksi konstan, dan pola produksi moderat
Kegiatan Belajar 4
Perencanaan Standar Produksi
Standar produksi adalah pedoman untuk pelaksanaan kegiatan produksi. Standar produksi terbagi dua, yaitu standar teknis dan standar manajerial. Standar produksi dapat bersumber dari aktivitas perusahaan, asosiasi perusahaan dan masyarakat, standar nasional, dan standar internasional.

MODUL 3
PERENCANAAN LOKASI PABRIK
Kegiatan Belajar 1
Perencanaan Lokasi Berdasarkan Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif untuk pemilihan lokasi pabrik adalah analisis untuk memilih lokas pabrik berdasarkan data kuantitatif. Model biaya transportasi RVD (rate-volume-distance transportation model) mencari biaya angkutan terendah. Model BE (breakeven) mencari biaya terendah dikaitkan dengan rencana kapasitas produksi. Model transportasi digunakan untuk pemecahan masalah distribusi dari beberapa sumber ke beberapa tempat tujuan dengan biaya terendah
Kegiatan Belajar 2
Perencanaan Lokasi Berdasarkan Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif dalam pemilihan lokasi pabrik dapat menggunakan dua model pemilihan lokasi yang umum digunakan, yaitu; penilaian dari berbagai faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi, dan model tiga tahap proses lokasi. Untuk pemilihan lokasi perusahaan servis di samping menggunakan model analisis kualitatif, masih diperlukan beberapa pertimbangan lain yaitu pertimbangan-pertimbangan khusus untuk pemilihan lokasi perusahaan servis
Kegiatan Belajar 3
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Analisis mengenai dampak lingkungan sangat perlu dilakukan oleh perusahaan, terutama setelah dilakukan penapisan ternyata diperlukan AMDAL. Analisis ini agak berbeda tujuannya dengan metode kualitatif dan metode kuantitatif dalam pemilihan lokasi pabrik. Berbagai model analisis di depan adalah berpegang pada kepentingan perusahaan, sedangkan AMDAL lebih mengutamakan penilaian dampak pendirian pabrik
Kegiatan Belajar 4
Perencanaan Bangunan Pabrik
Perencanaan bangunan pabrik merupakan bagian yang erat dengan perencanaan lokasi, karena bangunan yang akan didirikan seringkali dipengaruhi oleh lokasi yang dipilih. Terkait erat dengan perencanaan bangunan pabrik adalah perencanaan gudang pabrik.

MODUL 4
PERENCANAAN LAYOUT DAN LINGKUNGAN KERJA
Kegiatan Belajar 1
Perencanaan Fasilitas Produksi
Perencanaan fasilitas produksi membahas perencanaan kapasitas mesin. Perlu diketahui beberapa istilah kapasitas yang mempunyai arti berbeda. Pertimbangan skala ekonomis dan jangkauan ekonomis perlu diperhatikan. Untuk perusahaan servis perlu pendekatan kapasitas input.
Kegiatan Belajar 2
Perencanaan Layout
Untuk menyusun perencanaan layout perlu diketahui klasifikasi perencanaan layout dan klasifikasi layout. Sebelum menentukan klasifikasi layout, sebelumnya perlu memutuskan klasifikasi perencanaan layout terlebih dahulu.
Kegiatan Belajar 3
Perencanaan Kondisi Kerja
Kondisi kerja merupakan kondisi atau lingkungan fisik di mana karyawan bekerja. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, misalnya penerangan, suhu udara, suara bising, warna, ruang gerak karyawan, dan keamanan kerja.
Kegiatan Belajar 4
Pelayanan dan Hubungan Karyawan
Pelayanan karyawan dan hubungan karyawan merupakan hal penting dalam perusahaan. Pelayanan karyawan terdiri dari pelayanan makan/makanan, pelayanan kesehatan, penyediaan kamar kecil dan locker. Hubungan karyawan perlu dijaga agar harmonis baik bagi karyawan sebagai individu maupun karyawan sebagai suatu kelompok atau grup.

MODUL 5
PENGENDALIAN PROSES
Kegiatan Belajar 1
Perencanaan dan Pengendalian Operasional
Menurut prinsip akuntansi yang lazim, semua biaya yang terjadi untuk memperoleh bahan baku dan untuk menempatkannya dalam keadaan siap untuk diolah, merupakan elemen harga pokok bahan baku yang dibeli. Harga pokok bahan baku terdiri dari harga beli yang tercantum dalam faktur dari penjual ditambah biaya angkutan, biaya-biaya pembelian lain serta biaya yang dikeluarkan untuk menyiapkan bahan baku tersebut dalam keadaan siap untuk diolah.
Biaya angkutan dapat diperlakukan dengan dua cara; diperhitungkan sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli atau diperlakukan sebagai elemen biaya overhead pabrik. Biaya angkutan diperhitungkan sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli dengan dasar perbandingan kuantitas, perbandingan harga faktur, atau dengan tarif yang ditentukan di muka.
Dalam memperhitungkan biaya-biaya unit organisasi yang terkait dalam perolehan bahan baku, perusahaan membuat tarif pembebanan biaya pembelian untuk dibebankan kepada bahan baku yang dibeli.
Kegiatan Belajar 2
Metode Pengendalian Proses
Bahan baku yang disimpan di gudang berasal dari berbagai pembelian, yang kemungkinan besar mempunyai harga per satuan yang berbeda dari pembelian yang satu ke pembelian yang lain. Hal ini menimbulkan masalah pemilihan harga pokok per satuan bahan baku yang dipakai dalam produksi, metode penentuan harga pokok bahan yang dipakai dalam produksi adalah: metode identifikasi khusus, metode rata-rata bergerak, MTKP, metode biaya standar, metode rata-rata harga pokok bahan baku pada akhir bulan.
Pencatatan persediaan bahan baku dapat dilakukan dengan metode mutasi persediaan atau metode persediaan fisik.
Kegiatan Belajar 3
Urutan dan Jadwal Proses
Sisa bahan merupakan bahan baku yang rusak dalam proses produksi, sehingga tidak dapat menjadi bagian produk jadi. Jika sisa bahan tidak mempunyai nilai jual, akibat yang ditimbulkan adalah harga pokok per satuan produk jadi menjadi lebih tinggi. Jika sisa bahan masih mempunyai nilai jual, masalah yang timbul adalah bagaimana memperlakukan hasil penjualan sisa bahan tersebut. Hasil penjualan sisa bahan dapat diperlakukan sebagai pengurang biaya bahan baku pesanan yang menghasilkan sisa bahan tersebut, sebagai pengurang biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi, atau sebagai pendapatan di luar usaha.
Produk rusak adalah produk yang tidak memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan, yang secara ekonomis tidak dapat diperbaiki menjadi produk yang baik. Masalah akuntansi yang timbul dari adanya produk rusak adalah bagaimana memperlakukan kerugian yang timbul dari adanya produk rusak tersebut. Kerugian adanya produk rusak dapat dibebankan kepada pesanan yang menghasilkannya atau diperhitungkan sebagai elemen biaya overhead pabrik.
Produk cacat adalah produk yang tidak memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan, namun dengan mengeluarkan biaya pengerjaan kembali untuk memperbaikinya, produk tersebut secara ekonomis dapat disempurnakan lagi menjadi produk jadi yang baik. Masalah akuntansi yang timbul dari adanya produk cacat adalah bagaimana memperlakukan biaya pengerjaan kembali produk cacat tersebut. Biaya pengerjaan kembali produk cacat dapat dibebankan kepada pesanan yang menghasilkan produk cacat tersebut atau diperlukan sebagai elemen biaya overhead pabrik.
Kegiatan Belajar 4
Perintah Kerja dan Tindak Lanjut
Dalam perusahaan biaya tenaga kerja digolongkan dengan berbagai macam cara: menurut fungsinya pokok dalam perusahaan, menurut kegiatan bagian-bagian dalam perusahaan, menurut jenis pekerjaan, dan menurut hubungannya dengan produk atau jasa yang dihasilkan.
Akuntansi biaya tenaga kerja melalui empat tahap: pencatatan distribusi biaya tenaga kerja, pencatatan utang upah, pencatatan pembayaran upah kepada karyawan yang berhak, dan penyetoran pajak penghasilan karyawan ke Kas Negara.

MODUL 6
PENGENDALIAN BAHAN BAKU
Kegiatan Belajar 1
Manajemen Pengadaan Bahan Baku
Metode harga pokok proses diterapkan untuk mengolah informasi biaya produksi dalam perusahaan yang produksinya dilakukan secara massa. Metode harga pokok proses berbeda dengan metode harga pokok pesanan dalam hal pengumpulan biaya produksi, perhitungan harga pokok per satuan, klasifikasi biaya produksi, pengelompokan biaya yang dimasukan dalam elemen biaya overhead pabrik.
Masalah pokok yang terdapat dalam metode harga pokok proses adalah bagaimana menentukan harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen produksi berikutnya atau ke gudang dan bagaimana menentukan harga pokok produk yang pada akhir periode masih dalam proses di suatu departemen untuk menentukan harga pokok tersebut, diperlukan perhitungan biaya produksi per satuan produk yang dihasilkan oleh suatu departemen untuk menghitung biaya per satuan produk yang dihasilkan oleh suatu departemen, perlu ditentukan unit ekuivalensi. Unit ekuivalensi ini dipengaruhi oleh jumlah produk selesai yang ditransfer ke departemen pada akhir periode, dan ada tidaknya produk yang hilang dalam proses.

MODUL 7
PENGENDALIAN KARYAWAN PERUSAHAAN
Kegiatan Belajar 1
Metode dan Pengukuran Kerja Karyawan
Harga pokok produk dalam proses awal menimbulkan masalah penentuan harga pokok produk selesai yang ditransfer dari suatu departemen ke departemen produksi berikutnya atau ke gudang. Untuk mengatasi masalah tersebut ada dua metode penentuan harga pokok: metode harga pokok rata-rata tertimbang dan metode masuk pertama, ke luar pertama.
Dalam metode harga pokok rata-rata tertimbang, tiap elemen harga pokok yang melekat pada produk dalam proses dijumlahkan dengan elemen biaya produksi yang dikeluarkan dalam periode sekarang untuk menghitung harga pokok rata-rata tertimbang. Kemudian harga pokok rata-rata tertimbang ini dikaitkan dengan kuantitas produk selesai yang ditransfer ke departemen berikutnya atau ke gudang untuk menentukan harga pokok produk tersebut.
Dalam metode masuk pertama ke luar pertama, harga pokok produk dalam proses awal merupakan harga pokok pertama yang membentuk harga pokok produk yang ditransfer ke departemen berikutnya atau ke gudang.
Tambahan bahan baku di departemen setelah departemen produksi yang pertama mempunyai dua kemungkinan: menambah jumlah produk yang dihasilkan oleh departemen yang bersangkutan atau tidak menambah jumlah produk yang dihasilkan dalam departemen yang bersangkutan. Jika bahan baku tersebut tidak menambah jumlah produk yang dihasilkan dalam departemen yang bersangkutan, tambahan biaya bahan baku tersebut hanya menambah biaya bahan baku per satuan dalam departemen tersebut. Jika bahan baku tersebut menambah jumlah produk yang dihasilkan oleh departemen yang bersangkutan, tambahan bahan baku tersebut akan berakibat terhadap penyesuaian harga pokok per satuan produk yang berasal dari departemen sebelumnya dan tambahan biaya bahan baku per satuan dalam departemen setelah departemen produksi pertama.

MODUL 8
PENGENDALIAN BIAYA OPERASIONAL
Kegiatan Belajar 1
Anggaran Biaya Operasional
Untuk kepentingan penentuan penghasilan dan perhitungan harga pokok persediaan, biaya bersama perlu dialokasikan kepada produk bersama. Empat, metode alokasi biaya bersama kepada produk bersama adalah: metode nilai jual relatif, metode satuan fisik, metode rata-rata biaya per satuan, dan metode rata-rata tertimbang. Karena produk sampingan merupakan produk yang mempunyai nilai jual relatif jauh lebih rendah dibandingkan dengan produk utamanya, maka ada dua kelompok metode perlakuan terhadap produk sampingan. Kelompok metode yang pertama tidak berusaha untuk mengalokasikan biaya bersama kepada produk sampingan, karena rendahnya nilai jual produk sampingan tersebut, sedangkan kelompok metode kedua berusaha mengalokasikan biaya bersama kepada produk sampingan.
Kegiatan Belajar 2
Biaya Relevan untuk Keputusan Operasional

MODUL 9
PENGENDALIAN KUALITAS DAN PEMELIHARAAN FASILITAS PRODUKSI
Kegiatan Belajar 1
Pengendalian Kualitas Terpadu
Sistem biaya standar merupakan proses untuk menentukan biaya di muka yang mencerminkan biaya yang seharusnya untuk mengolah produk atau jasa, mengumpulkan biaya sesungguhnya, menghitung dan menganalisis selisih, serta perlakuan selisih biaya yang timbul.
Beberapa manfaat yang diperoleh dengan pemakaian sistem biaya standar antara lain untuk:
1. perencanaan kegiatan;
2. koordinasi kegiatan antar bagian;
3. pengambilan keputusan;
4. pengendalian biaya;
5. memungkinkan penerapan prinsip pengecualian;
6. penentuan insentif para personal, serta
7. mengurangi biaya administrasi.
Kegiatan Belajar 2
Pendekatan Pengendalian Kualitas
Ada dua prosedur akuntansi biaya standar yakni pertama, metode rancangan tunggal (single plan) dan kedua, metode rancangan berat sebelah atau metode rancangan parsial (partial plan).
Apabila menggunakan metode single plan maka ketentuannya adalah sebagai berikut:
1. jika ada produk dalam proses awal, maka produk tersebut dimasukkan kembali ke rekening barang dalam proses sebesar standarnya;
2. biaya pada periode tersebut dimasukkan ke rekening barang dalam proses sebesar standarnya, sehingga selisih biaya harus dihitung dan dianalisis terlebih dahulu;
3. adanya produk selesai dipindahkan dari rekening barang dalam proses ke rekening persediaan produk selesai sebesar standarnya, serta
4. adanya produk dalam proses akhir periode dipindahkan dari rekening barang dalam proses ke rekening persediaan produk dalam proses sebesar standarnya.
Sedangkan apabila digunakan metode partial plan maka ketentuannya adalah sebagai berikut
1. jika ada produk dalam proses awal, maka produk tersebut dimasukkan kembali ke rekening barang dalam proses sebesar standarnya;
2. biaya pada periode tersebut dimasukkan ke rekening barang dalam proses sebesar biaya sesungguhnya;
3. adanya produk selesai dipindahkan dari rekening barang dalam proses ke rekening persediaan produk selesai sebesar standarnya;
4. adanya produk dalam proses akhir periode dipindahkan dari rekening barang dalam proses ke rekening persediaan produk dalam proses sebesar standarnya; serta
5. selisih biaya harus dihitung dan dianalisis pada akhir periode dari perbedaan sebelah debet dengan sebelah kredit rekening barang dalam proses.
Kegiatan Belajar 3
Peran Karyawan dalam Pengendalian Kualitas
Penentuan harga pokok variabel bermanfaat untuk pengendalian manajemen dalam jangka pendek, khusuanya untuk perencanaan, pembuatan keputusan, dan pengendalian. Metode harga pokok penuh memasukan semua elemen biaya produksi, baik tetap maupun variabel, ke dalam harga pokok produk. Metode harga pokok variabel hanya memasukan elemen biaya produksi variabel ke dalam harga pokok produk. Terdapat perbedaan antara metode harga pokok penuh dan harga pokok variabel. Parbedaan tersebut dapat ditinjau dari segi elemen harga pokok, besarnya harga pokok persediaan, susunan laporan laba-rugi, besarnya laba-rugi.
Kegiatan Belajar 4
Pemeliharaan Fasilitas Produksi
Kegiatan Belajar 4 ini lebih menegaskan bahwa perbedaan laba antara metode harga pokok penuh dan metode harga pokok variabe1 dipengaruhi oleh perbedaan volume produksi dengan volume penjualan atau perbedaan parsediaan akhir dengan persediaan awal. Perbedaan tersebut besarnya ditentukan oleh biaya produksi tetap satuan. Harga pokok persediaan pada metode harga pokok penuh selalu lebih tinggi dibandingkan dengan pada metode harga pokok variabel. Metode harga pokok variabel mengandung beberapa kelemahan yaitu untuk pelaporan pihak luar, pemisahan biaya tetap dan variabel, dan penyimpangan asas pemanfaatan fasilitas
Daftar Pustaka


MODUL 1
MANAJEMEN PRODUKSI, SISTEM PRODUKSI DAN PROSES OPERASI PRODUKSI
1. Garvin D.A. (1992). Operations Strategy, Text and Cases. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
2. Buffa, E.S. (1987). Modern Prduction/Operations Management. New York: John Wiley & Sons, Inc.
3. Adam, Jr. E.E. (1989). Production and Operations Management. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
4. Weiss, H.J. (1989). Production and Operations Management. Boston: Allyn and Bacon.
5. Meredith, J.R. (1992). The Management of Operations: A Conceptual Emphasis. New York: John Wiley & Sons, Inc.
6. Dilworth, J.B. (1996). Operations Management, Design, Planning, and Control for Manufacturing and Services, 2nd edition. New York: McGraw-Hill, Inc.
7. Heizer J. & Render, B. (1996). Production and Operations Management, Strategic and Tactical Decisions, 4th edition. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
8. Starr, M.K. (1989). Managing Production and Operations. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
9. Noori, Hamid and Radford, Russell. (1995). Production and Operations Management, Total Quality and Responsibility. New York: McGraw-Hill, Inc.
10. Hill, T. (1991). Production and Operations Management. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

MODUL 2
PERENCANAAN PRODUK DAN STANDAR PRODUKSI
1. Garvin D.A. (1992). Operations Strategy, Text and Cases. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
2. Buffa, E.S. (1987). Modern Prduction/Operations Management. New York: John Wiley & Sons, Inc.
3. Adam, Jr. E.E. (1989). Production and Operations Management. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
4. Weiss, H.J. (1989). Production and Operations Management. Boston: Allyn and Bacon.
5. Meredith, J.R. (1992). The Management of Operations: A Conceptual Emphasis. New York: John Wiley & Sons, Inc.
6. Dilworth, J.B. (1996). Operations Management, Design, Planning, and Control for Manufacturing and Services, 2nd edition. New York: McGraw-Hill, Inc.
7. Heizer J. & Render, B. (1996). Production and Operations Management, Strategic and Tactical Decisions, 4th edition. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
8. Starr, M.K. (1989). Managing Production and Operations. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
9. Noori, Hamid and Radford, Russell. (1995). Production and Operations Management, Total Quality and Responsibility. New York: McGraw-Hill, Inc.
10. Hill, T. (1991). Production and Operations Management. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

MODUL 3
PERENCANAAN LOKASI PABRIK
1. Garvin D.A. (1992). Operations Strategy, Text and Cases. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
2. Buffa, E.S. (1987). Modern Prduction/Operations Management. New York: John Wiley & Sons, Inc.
3. Adam, Jr. E.E. (1989). Production and Operations Management. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
4. Weiss, H.J. (1989). Production and Operations Management. Boston: Allyn and Bacon.
5. Meredith, J.R. (1992). The Management of Operations: A Conceptual Emphasis. New York: John Wiley & Sons, Inc.
6. Dilworth, J.B. (1996). Operations Management, Design, Planning, and Control for Manufacturing and Services, 2nd edition. New York: McGraw-Hill, Inc.
7. Heizer J. & Render, B. (1996). Production and Operations Management, Strategic and Tactical Decisions, 4th edition, Prentice Hall, Inc.
8. Starr, M.K. (1989). Managing Production and Operations. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
9. Noori, Hamid and Radford, Russell. (1995). Production and Operations Management, Total Quality and Responsibility. McGraw-Hill, Inc.
10. Hill, T. (1991). Production and Operations Management. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

MODUL 4
PERENCANAAN LAYOUT DAN LINGKUNGAN KERJA
1. Garvin D.A. (1992). Operations Strategy, Text and Cases. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
2. Buffa, E.S. (1987). Modern Prduction/Operations Management. New York: John Wiley & Sons, Inc.
3. Adam, Jr. E.E. (1989). Production and Operations Management. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
4. Weiss, H.J. (1989). Production and Operations Management. Boston: Allyn and Bacon.
5. Meredith, J.R. (1992). The Management of Operations: A Conceptual Emphasis. New York: John Wiley & Sons, Inc.
6. Dilworth, J.B. (1996). Operations Management, Design, Planning, and Control for Manufacturing and Services, 2nd edition. New York: McGraw-Hill, Inc.
7. Heizer J. & Render, B. (1996). Production and Operations Management, Strategic and Tactical Decisions, 4th edition, Prentice Hall, Inc.
8. Starr, M.K. (1989). Managing Production and Operations. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
9. Noori, Hamid and Radford, Russell. (1995). Production and Operations Management, Total Quality and Responsibility. McGraw-Hill, Inc.
10. Hill, T. (1991). Production and Operations Management. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

MODUL 5
PENGENDALIAN PROSES
1. Cashin, James, polimeni. (1981). Cost Accounting. International Student Edition. Auckland: McGraw-hill International Book Company.
2. Mulyadi. (1980). Akuntansi Biaya. Edisi 3. Yogyakarta: BPFE.
3. Garrison Ray. H. (1982). Managerial Accunting, Concept for Planning, Control, Decision Making. Business Publications, Inc.
4. R.A. Supriyono. (1999). Akuntansi Biaya Buku 1: Pengumpulan Biaya dan Penentuan Harga Pokok. Edisi 2, Cetakan Ke XII. Yogyakarta: BPFE.
5. R.A. Supriyono. (1999). Soal dan Jawaban Akuntansi Biaya Bagian I. Yogyakarta: BPFE
6. R.A. Supriyono, (1999). Akuntansi Biaya Buku II: Perencanaan, Pengendalian, serta Pembuatan Keputusan. Edisi 2. Yogyakarta: BPFE.
7. R.A. Supriyono. (1999). Soal dan Jawaban Akuntansi Biaya Bagian II. Yogyakarta: BPFE.

MODUL 6
PENGENDALIAN BAHAN BAKU
1. Mulyadi. (1986). Akuntansi Biaya : Penentuan Harga Pokok Produk dan Pengendalian Biaya. Edisi 3. Yogyakarta: BPFE.
2. Cashin, James A. Ralph S. Polimeni. (1981). Cost Accounting. Auckland: McGraw-Hill International Book Company. International Student Edition.
3. R.A. Supriyono. (1999). Akuntansi Biaya Buku 1: Pengumpulan Biaya dan Penentuan Harga Pokok. Edisi 2, Cetakan Ke XII. Yogyakarta: BPFE.
4. R.A. Supriyono. (1999). Soal dan Jawaban Akuntansi Biaya Bagian 1. Yogyakarta: BPFE
5. R.A. Supriyono. (1999). Akuntansi Biaya Buku 11: Perencanaan, Pengendalian, serta Pembuatan Keputusan. Edisi 2. Yogyakarta: BPFE.
6. R.A. Supriyono. (1999). Soal dan Jawaban Akuntansi Biaya Bagian II. Yogyakarta: BPFE.

MODUL 7
PENGENDALIAN KARYAWAN PERUSAHAAN
1. Mulyadi. (1986). Akuntansi Biaya : Tenentuan Harga Pokok Produk dan Pengendalian Biaya. Edisi 3. Yogyakarta: BPFE.
2. R.A. Supriyono. (1999). Akuntansi Biaya Buku 1: Pengampulan Biaya dan Penentuan Harga Pokok. Edisi 2, Cetakan Ke XII. Yogyakarta: BPFE.
3. R.A. Supriyono. (1999). Soal dan Jawaban Akuntansi Biaya Bagian 1. Yogyakarta: BPFE
4. R.A. Supriyono. (1999). Akuntansi Biaya Buku 11: Perencanaan, Pengendalian, serta Pembuatan Keputusan. Edisi 2. Yogyakarta: BPFE.
5. R.A. Supriyono. (1999). Soal dan Jawaban Akuntansi Biaya Bagian II. Yogyakarta: BPFE.

MODUL 8
PENGENDALIAN BIAYA OPERASIONAL
1. Cashin, James A. Ralph S. Polimeni. (1981). Cost Accounting. International Student Edition. Auckland: McGraw-Hill International Book Company.
2. Mulyadi. (1986). Akuntansi Biaya: Penentuan Harga Pokok Produk dan Pengendalian Biaya. Edisi 3. Yogyakarta: PT. BPFE Yogyakarta.
3. R.A. Supriyono. (1999). Akuntansi Biaya Buku I: Pengumpulan Biaya dan Penentuan Harga Pokok. Edisi2, Cetakan Ke XI1.Yogyakarta: BPFE.
4. R.A.Supriyono. (1999). Soal dan jawaban Akuntansi Biaya Bagian I. Yogyakarta: BPFE.
5. R.A. Supriyono. (1999). Akuntansi Biaya Buku II: Perencanaan Pengendalian serta Pembuatan Keputusan. Edisi 2. Yogyakarta: BPFE.
6. R.A. Supriyono. (1999). Soal dan jawaban Akuntansi Biaya Bagian II.Yogyakarta: BPFE.

MODUL 9
PENGENDALIAN KUALITAS DAN PEMELIHARAAN FASILITAS PRODUKSI
1. R.A Supriyono. (1987). Akuntansi Biaya: Perencanaan dan Pengendalian Biaya serta Pembuatan Keputusan Yogyakarta: BPFE.
2. R.A. Supriyono. (1987). Soal dan Jawaban Akuntansi Biaya Bagian II. Yogyakarta: BPFE, Bisi 2.
3. Cashin dan Pokimeni. (1981). Cost Accounting. MeGraw-Hill Book Company, International Student Bdition, Chapter 17.
4. Gray dan Ricketts (1982). Cost and Managerial Accounting. USA: McGrow-Hill Book Company. Chapter 14

Sumber : www.ut.ac.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar