Entri Populer

Entri Populer

Rabu, 19 Januari 2011

TAP Administrasi Negara 2004.2


NASKAH UJIAN
TUGAS AKHIR PROGRAM
PROGRAM STUDI ADMINISTRASI NEGARA (ADPU4500)
MASA UJIAN 2004.2
Kode Naskah 47; Tgl Ujian : Sabtu, 06-11-2004
Sifat Ujian : Open Book
Tidak Boleh Pakai Kalkulator

Sesungguhnya, apapun yang Anda perbuat, Tuhan Maha Mengetahui.
Karena itu, bekerjalah dengan jujur dan jangan berbuat curang !

RENTE DALAM BIROKRASI PELAYANAN PUBLIK

A. KASUS
Masyarakat pengguna jasa layanan public terpaksa melakukan rente. Rente adalah kata lain dari uang pelican, uang semir, uang sogok atau pungutan liar yang diberikan kepada birokrasi pelayan public. Masyarakat terpaksa melakukannya karena kalau tidak mereka tidak akan menerima pelayanan yang semestinya.

Hasil penelitian tentang Kinerja Pelayanan Publik pada Instansi Perizinan dan Pertanahan di Sumatra Barat, Sulawesi Selatan, dan DIY menunjukkan hal tersebut. Sebanyak 58% masyarakat mengaku telah memberikan biaya diluar biaya resmi setiap berurusan dengan birokrasi. Pada sisi yang sama, 61% birokrasi atau petugas pelayanan public menyatakan telah menerima pemberian dalam bentuk uang atau barang dari masyarakat. Mengenai pelaku awalnya baik masyarakat maupuan birokrat sama-sama berinisiatif memberi kesempatan untuk melakukan praktik rente ini.

Rente pelayanan public terjadi karena PERTAMA, kuatnya peran birokrasi dalam pemberian pelayanan public yang pada sisi lain tidak seimbang dengan pengawasan yang efektif dari kekuatan politik (DPR/DPRD) dan masyarakat. KEDUA, tiadanya kepemimpinan birokrasi yang menegakkan aturan standard pelayanan dan memberikan sanksi kepada bawahan yang melanggar. Bahkan pemimpin cenderung memberi peluang terjadinya rente tersebut. KETIGA, rendahnya penghasilan yang diterima pegawai. Pegawai cenderung menaikkan standar hidupnya ketika meletakkan diri dalam status social masyarakat. Dalam memenuhi kepentingan ini, pegawai mencari pendapatan tambahan di luar pendapatan resmi.

Sumber : Rente dalam Birokrasi Pelayanan Publik, http://www.cpps.or.id//upload/policy briefs/policy brief rente berokrasi bw. 2.pdf.
B. SOAL :
No. PERTANYAAN : SKOR
1. Jika Anda ingin mereformasi birokrasi sehingga dapat memberikan pelayanan sesuai dengan aspirasi pengguna jasa (masyarakat) bagaimana cara Anda mereformasi birokrasi tersebut?
Gunakan konsep formulasi dan pelaksanaan kebijakan public! 8
2. Rente birokrasi dalam pelayanan public ternyata berkaitan dengan kepemimpinan birokrasi. Analisislah kepemimpinan bagaimana yang dapat menciptakan birokrasi yang bersih, efektif, dan efisien ! 8
3. Jika birokrasi didaerah Anda disinyalir terjadi rente birokrasi dalam pelayanan public, apa yang Anda lakukan bila Anda ingin menyehatkan birokrasi didaerah Anda tersebut? Gunakan konsep diagnosis dan invervensi!. 8
4. Salah satu penyebab rente birokrasi dalam pelayanan public adalah kuatnya peran birokrasi dan lemahnya pengawasan (politik maupun masyarakat). Jika Anda, ingin membenahi birokrasi kita sehingga dapat memberikan pelayanan public yang memuaskan, bagaimana cara membenahi birokrasi kita?
Gunakan konsep system administrasi Negara Indonesia dan teori organisasi! 12
Jumlah 36

Selamat Mengerjakan !!
by jtriwiyanto

Sabtu, 15 Januari 2011

TAP Administrasi Niaga 2005.1

NASKAH UJIAN
TUGAS AKHIR PROGRAM (TAP)
Program Studi Administrasi Niaga
Tutup Buku / Boleh Pakai Kalkulator
Kode Mata Kuliah : ADBI4500
Kode Naskah : 48
Masa Ujian : 051
Tanggal Ujian : Sabtu / 14 – 05 -2005
Waktu Ujian : 11.00 – 14.00 WIB (180 menit)
12.00 - 15.00 WITA (180 menit)
13.00 - 16.00 WIT (180 menit)
Petunjuk:
1. Telitilah kode matakuliah, jumlah halaman, dan jumlah soal dalam naskah TAP ini. Naskah ini terdiri dari 03 halaman yang berisi 05 butir soal. Kalau tidak sesuai laporkan kepada Pengawas.
2. Bacalah petunjuk cara menjawab soal dengan cermat.
3. Nilai hanya diberikan terhadap jawaban yang benar dan tidak akan dikenakan denda terhadap jawaban yang salah.
4. Jawaban ditulis pada Buku Jawaban Ujian (BJU), dengan tulisan yang jelas dan mudah dibaca.
5. Jangan mencorat-coret BJU, gunakan buram atau lembar kosong pada Naskah Ujian untuk coret-mencoret.
6. Tidak diperkenankan meminta penjelasan kepada siapapun yang berkaitan dengan materi ujian.
7. Naskah Ujian ini tidak dilampiri tabel.
8. BJU tidak boleh kotor, basah, terlibat atau robek.
9. Periksalah kembali penulisan identitas kemahasiswaan Anda pada BJU karena, kesalahan pengisian identitas bisa menyebabkan Anda tidak lulus ujian ini.
10. Setelah selesai ujian, serahkan BJU kepada Pengawas Ujian dan naskah ujian boleh diambil.

INDUSTRI ROTAN
DI TENGAH MELIMPAHNYA BAHAN BAKU
Indonesia merupakan negara penghasil rotan terbesar di dunia, namun devisa yang diperoleh dari hasil ekspor rotan masih relatif kecil. Sebagai contoh, ketika keran ekspor rotan mentah dibuka sejak tahun 1999, total ekspor rotan asalan dan setengah jadi pada tahun 2003 mencapai 28,5 juta kilogram dengan nilai jual hanya 18,16 juta dollar Amerika Serikat (AS) atau Rp 163,49 milyar (dengan kurs Rp 9.000 per dollar AS). Kini, pemerintah melarang ekspor rotan mentah dan rotan asalan. Tujuan kebijakan ini antara lain agar pemerintah daerah dan masyarakat bisa mengolah rotan mentah menjadi produk rotan sehingga memiliki nilai tambah yang tinggi.
Sebagai gambaran, satu peti kemas produk kerajinan rotan menghabiskan bahan baku sekitar 3.000 kilogram. Jika rotan mentah yang diekspor sebanyak 28,5 juta kilogram, sebenarnya bisa menghasilkan 9.500 kontainer kerajinan rotan. Harga produk atau kerajinan rotan minimal 8.500 dollar AS per kontainer atau seluruhnya senilai 80,75 juta dolar AS. Berarti nilai tambah produk rotan hampir lima kali lipat dibandingkan dengan rotan asalah/mentah.
Salah satu daerah yang memiliki industri rotan adalah Cirebon, khususnya di kabupaten Kuningan, Majalengka, Indramayu, Cirebon, dan Kota Cirebon. Kini, lebih dari 400.000 orang penduduk menggantungkan hidup dari usaha mebel rotan. Bisnis rotan di Cirebon seakan sudah menggurita, mulai dari industri rumahan sampai perusahaan eksportir.
Menurut catatan Asosiasi Industri Permebelan & Kerajian Indonesia (Asmindo) Komisariat Daerah Cirebon yang dikuti dari sumber data Depperindag Kabupaten Cirebon tahun 1999, realisasi ekspor mebel rotan Cirebon (tidak termasuk kerajinan tangan yang umumnya berbahan baku limbah mebel rotan) tercatat senilai 84,38 juta dollar AS, tahun 2000 menjadi 91,55 juta dollar AS, tahun 2003 sebesar 101,67 juta dollar AS, dan tahun 2004 sekitar 116,57 juta dollar AS. Nilai tersebut belum termasuk yang diekspor melalui Jakarta dan kota lainnya di Indonesia. Selain menggarap pasar ekspor, industri rotan Cirebon juga menyasar pasar lokal, meskipun omzet mebel rotan ekspor nilainya lebih besar daripada pasar lokal.
Tahun 1995 mebel rotan buatan Indonesia, Cirebon khususnya, masih bisa bersaing dengan produksi China, tetapi sekarang China tak bisa disepelekan. Dari sisi desain dan kualitas, mebel rotan buatan China tidak kalah dari produk kita, namun harganya bisa jauh lebih murah.
Salah satu yang diharapkan pengusaha mebel rotan dari pemerintah adalah pemberlakuan terminal handling charge (THC) yang bersaing. Menurut pengusaha, komponen THC di Indonesia termasuk tinggi dibandingkan dengan negara Asia lainnya, yaitu sebesar 260 dollar AS untuk setiap kontainer berukuran sekitar 40 kaki. Sebagai perbandingan, THC serupa di Malaysia hanya sebesar 68 dolar AS, Singapura mematok 160 dollar AS, Thailand 75 dollar AS, dan Myanmar hanya 50 dollar AS.
Dari gambaran industri mebel rotan di Cirebon, tampak bahwa industri mebel dan kerajinan rotan di negara kita memliki potensi yang luar biasa, baik dari segi penyerapan tenaga kerja mapun devisa ekspor. Hal ini tidak lepas dari melimpahnya hasil hutan tersebut yang ada di negara kita. Namun hingga kini industri mebel rotan kita masih kalah bersaing di pasar internasional dengan produk yang sama dari negara, yang justru bukan penghasil rotan, yaitu China dan Taiwan. Oleh karena itu, pemerintah pusat dan pemerintah daerah (penghasil rotan) harus bekerja keras untuk mendayagunakan hasil hutan tersebut, sebagai salah satu kekayaan negara yang sangat menjanjikan bagi kemakmuran bangsa.
Pertanyaan
Nomor Satu
• Jelaskan tiga fungsi manajemen keuangan. Berikan ilustrasi dengan contoh perkembangan industri mebel di Indonesia. (Nilai: 6 poin)
• Susunlah Laporan Sumber dan Penggunaan Dana PT Rattani berdasarkan necara PT Rattani tahun 2003 dan 2004 berikut ini: (Nilai: 6 poin)
• Tanggal ; 31-12-2003 ; 31-12-2004
Kas ; Rp 1.750.000,- ; Rp 1.900.000,-
Piutang ; Rp 3.500.000,- ; Rp 5.200.000,-
Persediaan ; Rp 8.150.000,- ; Rp 12.600.000,-
Mesin dan Peralatan ; Rp 3.500.000,- ; Rp 5.000.000,-
Depresiasi ; Rp 350.000,- ; Rp 500.000,-
Tanah ; Rp 20.000.000,- ; Rp 20.000.000,-
Gedung ; Rp 25.000.000,- ; Rp 35.000.000,-
Depresiasi ; Rp 1.500.000,- ; Rp 1.500.000,-
Total Aktiva ; Rp 63.750.000,- ; Rp 81.700.000,-
Utang Dagang ; Rp 7.450.000,- ; Rp 8.600.000,-
Utang Bank ; Rp 30.000.000,- ; Rp 35.000.000,-
Utang Jangka Panjang ; Rp 20.000.000,- ; Rp 30.000.000,-
Laba Ditahan ; Rp 6.300.000,- ; Rp 8.100.000,-
Total Pasiva & Modal; Rp 63.750.000,- ; Rp 81.700.000,-
• Jika pinjaman PT Rattani tahun 2003 dikenakan harga flat rate oleh bank, dengan jangka waktu pinjaman selama 3 tahun, hitunglah besarnya biaya modal PT Rattani untuk tahun 2003! Realisasi pinjaman terhitung mulai bulan Mei 2003. (Nilai: 4 poin)
Nomor Dua
• Dari wacana di atas, dapat dikatakan bahwa posisi pengusaha-pengusaha industri rotan Indonesia dalam pasar industri rotan internasional adalah sebagai penantang pasar! Jelaskan yang dimaksud dengan penantang pasar dan jelaskan minimal dua karakteristiknya! (Nilai: 6 poin)
• Dengan posisi pengusaha-pengusaha rotan Indonesia sebagai penantang pasar, jelaskan minimal dua strategi penyerangan untuk mengungguli dominasi pengusaha-pengusaha China dan Taiwan! (Nilai: 4 poin)
• Bagaimana penerapan strategi Segmenting, Targetting, dan Positioning (STP) dalam industri pasar industri rotan! (Nilai: 6 poin)

Nomor Tiga
• Mengingat kebutuhan tiap tahun akan bahan baku rotan yang begitu besar, maka PT Rattani harus memperhitungkan jumlah pembelian ekonomisnya (EOQ). Jika diketahui harga rotan mentah per tahun mencapai 1.500 kg, dengan harga beli Rp 5.000,- per kg, biaya pemesanan adalah Rp 50.000,- untuk setiap kali pesan, serta biaya penyimpanan diperhitungkan 0,5% dari nilai kebutuhan rotan per tahun, maka hitunglah jumlah pembelian ekonomisnya (EOQ)? (Nilai: 4 poin)
• Berdasarkan prediksi volume penjualan yang akan meningkat untuk tahun-tahun mendatang, PT Rattani bermaksud mendirikan pabrik mebel rotan baru. Jelaskan minimal tiga aspek penting yang harus dipertimbangkan oleh PT Rattani dalam pemilihan lokasi pabrik? (Nilai: 6 poin)
Nomor Empat
• Dengan menggunakan metode analisis SWOT, coba Anda lakukan analisis terhadap industri mebel dan kerajian rotan Indonesia! (Nilai: 8 poin)
• Jelaskan tiga upaya yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam mengembangkan industri rotan di tanah air! (Nilai: 6 poin)
Nomor Lima
• Berkaitan dengan rencana pembangunan pabrik mebel rotan baru oleh PT Rattani, maka dibutuhkan tambahan karyawan baru, baik pada tingkat manajerial maupun tingkat operasional. Alat analisis yang penting dalam rencana rekrutmen tersebut adalah Analisis Jabatan (Job Analysis). Secara garis besar terdapat dua informasi penting yang diperoleh dari analisis jabatan. Jelaskan! (Nilai: 4 poin)
• Jelaskan spesifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan oleh pabrik mebel atau kerajinan rotan (3 buah)! (Nilai: 6 poin)
• Agar pegawai tingkat operasional PT Rattani memiliki semangat kerja yang tinggi, jelaskan minimal tiga upaya yang dapat dilakukan oleh pihak manajemen PT Rattani? (Nilai: 6 poin)
Total Nilai: 72 poin